Tak pernah kurang rasa hormat dan salut kepada bapak Mario Teguh yang selalu memberikan motivasi dan pencerahan bagi masyarakat Indonesia. Beliau memiliki acara yang sampai sekarang rutin di tayangkan di metro tv dengan judul Mario Teguh Golden Ways. Mungkin ada di antara pengunjung blog ini yang belum mengetahui profil bapak Mario Teguh atau siapa sih dia sehingga begitu dikagumi oleh pemirsanya.
Profile singkat bapak Mario Teguh
Beliau dilahirkan di Makasar pada tanggal 5 Maret 1956, saat ini berumur 54 tahun. Beliau dikenal sebagai seorang motivator kehidupan yang ulung dan sangat santun dalam berbicara. Selain itu beliau juga dikenal sebagai Konsultan di Indonesia. Nama asli beliau adalah Sis Maryono Teguh. Beliau lebih dikenal sebagai bpk. Mario Teguh.
Beliau meraih sarjana di bidang pendidikan di IKIP Malang. Kemudian beliau pernah bekerja di Citibank, dan mendirikan Bussiness Effectiveness Consultant. Beliau juga menjabat sebagai CEO Exnal Corp. dan juga bekerja sebagai Senior Konsultan.
Sebagai seorang motivator yang terkenal di Indonesia, Mario Teguh memiliki beberapa komunitas yang dimaintain dengan baik seperti komunitas Mario Teguh Super Club (MTSC) dan juga website resminya di www.marioteguh.asia.
Beberapa Prestasi Bpk Mario Teguh
  • Tahun 2010, meraih penghargaan MURI sebagai Motivator dengan Facebook Fans terbesar di dunia.
  • Awal tahun 2010, Beliau terpilih sebagai satu dari 8 Tokoh Perubahan 2009 versi Republika.
  • Pernah membawakan acara bertajuk Business Art di O’Channel.
  • dan kemudian acara yang sangat dikenal luas yaitu Mario Teguh Golden Ways di Metro TV.
  • dan terakhir Mario Teguh dikenal sebagai salah satu motivator termahal di Indonesia. :D
  • Tahun 2003, mendapatkan perhargaan MURI lainnya yaitu sebagai penyelenggara seminar berhadiah mobil pertama di Indonesia.
Pendidikan pak Mario Teguh
  • Jurusan Arsitektur New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, Amerika Serikat, 1975.
  • Jurusan Linguistik dan Pendidikan Bahasa Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (S-1).
  • Jurusan International Business, Sophia University, Tokyo, Jepang.
  • Jurusan Operations Systems, Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (MBA).
Ada artikel lain yang sudah pernah saya tulis tentang Filosofi pak Mario Teguh. Silahkan dibaca di link tersebut.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mario_Teguh

Lebih dari 20 tahun Andrie Wongso berkiprah sebagai pengusaha sukses sekaligus motivator. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman dan kebijaksanaan, dengan gaya bahasa yang sederhana tetapi full power kepada begitu banyak orang, membuat public dan media massa mengukuhkannya sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia.
Siapa sangka anak ke 2 dari 3 bersaudara ini terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota malang desember 1954.
Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini.
Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar.

Di usia 22 tahun, Andrie memutuskan berangkat ke Jakarta demi merubah nasib. Namun ada tanya yang menggelayut di dada, dengan apa nasib ini di ubah, bila seusianya, rumah mereka pun selalu sewa dan di dalamnya berisi sebuah sepeda untuk menjajakan kue, bahkan sekedar koran dan dering telpon pun tidak pernah ada di rumah mereka.
Maka lewat perenungan panjang, andrie brangkat ke Jakarta dengan satu tekad yakni siap menghadapi apapun di depan dengan berani dan jujur.
Maka dimulailah kerja sebagai salesman produk sabun sampai pelayan toko.
Kesukaannya bermain kungfu dari kecil dan kemampuannya bergaul dengan semua kalangan membawanya mendirikan perguruan kungfu â€œHap Kun Do” yakni sebuah aliran bela diri yang mengutamakan kekuatan, kecepatan dan fleksibilitas. Dari belajar kungfu inilah yang kemudian membentuk sikap mental positif yaitu disiplin, tanggung jawab, pantang menyerah, ulet, satria
dan lainnya. Dari sini pula bakat mengajar dan memotivasi Andrie terasah
.
- Hap Kun Do -
Saat film-film laga dari Taiwan merajai layar lebar perfilman Indonesia, Andrie yang merasa berwajah oke dan memiliki badan atletis, menyimpan hasrat menjadi seorang bintang film laga. Lewat latihan keras, kegagalan, bangkit lagi, semangat lagi dan gigih memperjuangkan tujuan, akhirnya mimpi pun menjadi kenyataan. Surat lamarannya sebagai bintang film di terima oleh perusahaan Eterna Film Hongkong, dengan kontrak kerja selama 3 tahun
Tahun 1980, untuk pertama kalinya andrie ke luar negeri, pertama kali naik pesawat dan untuk pertama kali pula menghadapi kamera. Hidup serasa berada di awang-awang. Tetapi setelah melewati 3 tahun merasakan suka dukanya bermain film di taiwan, andrie tahu, dunia film bukanlah dunianya.
- Menjadi Bintang Film -
Sepulangnya ke Indonesia, dia pun memutuskan tidak akan memperpanjang kontraknya. Banyak orang menyatakan Andrie gagal karena tidak ada satu film pun yang diwakilinya sebagai bintang utama! Tetapi Andrie merasa dirinya sukses. Sukses secara mental dalam memperjuangkan impian menjadi kenyataan. Keyakinan itu menjadi bekal pemikiran bahwa suatu hari, bila bertemu dengan bisnis yang cocok dengan jiwa dan kemampuannya, dengan semangat juang yang sama, pasti sukses bisa diraih!
Ada-ada aja ide Pak Tung Desem Waringin atau sering disingkat TDW. Dalam rangka promosi buku barunya “Marketing Revolution”, pak Tung Desem Waringin melakukan variasi dalam promosi dengan menyebar duit sejumlah Rp. 100 juta + tiket seminar pak Tung Desem Waringin. Acara yang rencananya dilaksanakan di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, namun batal karena tidak mendapat izin dari kepolisian karena alasan keamanan, Akhirnya terselenggara pada tanggal 1 Juni 2008 di Serang.

Adapun uang Rp. 100 juta yang terdiri dari pecahan Rp. 1000, Rp. 5000 dan Rp. 10.000 plus 100 tiket seminar 3 hari ( harga per tiket 3,9 juta ). Beberapa orang ada yang mendapatkan sampai Rp. 50.000, lumayan buat nambah uang dapur. Ada yang supir angkot sampai bela-belain dateng ke lokasi sekedar memuaskan penasarannya.

Dahulu ketika peluncuran bukan “Financial Revolution”, pak Tung Desem Waringin juga melakukan promosi yang dashyat, yaitu menunggangi kuda menyusuri jalan Sudirman. Sedangkan untuk peluncuran buku “Marketing Revolution” memiliki makna bahwa banyak promosi sia-sia untuk memasarkan suatu produk. Sehingga dibuat perumpamaan dari pada membuang duit sia-sia, mending diberikan ke masyarakat.

Kemarin juga pak Tung Desem Waringin di wawancarai oleh Bunda Dorce dalam acara Dorce Show gara-gara aksi gilanya. Mungkin aksi pak Tung Desem Waringin bisa menginspirasi banyak orang. Salam Dashyat

Bahagia saat I’tikaf di bulan Ramadhan

Di antara ibadah yang sangat dianjurkan pada saat bulan Ramadhan adalah I’tikaf di dalam masjid dengan niat ibadah kepada Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, terutama ketika memasuki malam-malam terakhir (10 malam terakhir) bulan Ramadhan –sangat ditekankan- oleh Rasulullah saw untuk dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah dan melakukan aktivitas mendekatkan diri kepada Allah secara khusus yang dilakukan di dalam masjid (i’tikaf).

Adapun yang dimaksud i’tikaf disini adalah tinggal di masjid dengan niat tertentu karena taat kepada Allah SWT, beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Hukum I’tikaf adalah sunnah muakkadah (sangat ditekankan) dan merupakan bagian ibadah yang banyak dilakukan oleh Rasulullah saw.

Sementara itu dalil disyariatkannya i’tikaf terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwasanya Nabi saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan hal tersebut dilakukan hingga akhir hayatnya tidak terputus. Kemudian setelah beliau meninggal, maka istri-istrinya dan para sahabat melanggengkan ibadah i’tikaf ini (Bukhari Muslim).

Bagi seseorang yang ingin menunaikan ibadah maka hendaknya memperhatikan beberapa kaidah yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw, sehingga ketika kaidah-kaidah tersebut dijalankan niscaya I’tikafnya dapat diterima oleh Allah SWT. Nabi saw bersabda:

من اعتكف إيمانًا واحتسابًا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang beri’tikaf karena iman dan berharap ridha Allah SWT, maka diampuni segala dosa-dosa yang telah lalu”. (Ad-Dailami)

Adapun kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan oleh orang yang I’tikda adalah sebagai berikut:

1. Rukun i’tikaf, yaitu terdiri dari:

a. Niat; Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala perbuatan atau amal itu tergantung pada niat….(Bukhari).

b. Berdiam diri di masjid, ini sesuai dengan firman Allah:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“….Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku dan yang sujud”. (Al-Baqarah 125).

2. Tempat dan waktu I’tikaf; yaitu

a. Tempatnya adalah di masjid seperti disinggung di atas,

b. Adapun waktunya adalah sepuluh terakhir bulan Ramadhan, meski demikian boleh juga dari awal sampai akhir Ramadhan.

3. Etika i’tikaf, yang terdiri dari:

a. Menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran, berdoa dan berdzikir kepada Allah dan menjauhi perkataan dan perbuatan yang tidak berguna.

b. Tidak menjadikan I’tikaf sebagai ajang untuk ngerumpi, mengobrol, tidur-tiduran dan melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat dan membuang-buang waktu.

4. Larangan dan hal-hal yang membatalkan i’tikaf;

a. i’tikaf gugur apabila keluar dari masjid kecuali untuk buang air kecil, bersuci, makan dan kebutuhan lainnya.

b. Mencampuri wanita, firman Allah SWT :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“…… janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid…..” (Al-Baqarah 187).

c. Apabila perempuan yang beri’tikaf haid atau nifas.

d. Orang murtad dan gila.

Tujuan dan pentingnya melakukan I’tikaf

Berbahagialah orang yang bisa melakukan ibadah I’tikaf selam bulan Ramadhan, terutama pada 10 hari terakhir, karena disamping telah menghidupkan sunnah nabi saw, mendapatkan jaminan ampunan Allah, dan menggapai malam kemuliaan (lailatul qadar), juga memiliki nilai-nilai mulia dan pendidikan.

Karena itu sangatlah penting bagi setiap muslim untuk memahami apa tujuan dan pentingnya melakukan I’tikaf. Adapun inti dari melakukan ibadah adalah sebagai berikut:

a. Ibadah i’tikaf dapat mengembalikan jati diri manusia sebagai hamba di hadapan Allah dan memiliki kewajiban mengabdikan diri kepada-Nya, Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-Dzariyat:56).

Sementara itu, tujuan hakiki dari segala ibadah yang diperintahkan adalah mencapai derajat taqwa, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada Allah SWT yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah:21)

b. Mendapatkan kesempatan untuk menggapai lailatul qadar, yaitu malam menggandanya pahala dari setiap ibadah dan amal yang dilakukan seakan melakukan ibadah dan amal shalih selama 1000 bulan. Dan salah satu tujuan dari i’tikafnya Rasulullah saw adalah menggapai lailatul qadar yang turun pada malam sepuluh terakhir Ramadhan.

c. Membiasakan diri untuk akrab dengan masjid dan shalat jamaah di masjid, serta menunggu saat-saat berkumandang ibadah shalat wajib. Karena semua itu merupakan sarana menggapai pahala berlipat ganda. Nabi saw bersabda:

الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

“Sesungguhnya malaikat mendoakan kalian selama di masjid dan dalam keadaan suci; Ya Allah ampunilah dan kasihanilah…...(Bukhari).

d. Membiasakan diri jauh dari kehidupan mewah dan zuhud dalam urusan dunia.

e. menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang non produktif dan perbuatan yang tidak bermanfaat.

f. Pembelajaran untuk memiliki sifat sabar yang terus-menerus; sabar dari mengekang diri, makanan, istri, kasur yang empuk dan lain sebagainya.

Oleh karena itulah dengan melakukan i’tikaf secara baik dan benar seperti diterangkan di atas, seorang mu’takif akan mendapatkan hikmah dan keutamaan yang sangat besar; menggapai pahala berlipat ganda, meraih ampunan Allah SWT, di doakan para malaikat, terbebas dari api neraka, dan menggapai lailatul qadar.

Bahagia saat menunaikan zakat fitrah

Selain sedekah dan zakat maal yang ditunaikan umat Islam pada bulan ramadhan karena berharap dilipatgandakan pahalanya adalah zakat fitrah.

Namun jika sedekah dan zakat maal atau yang sejenisnya dapat ditunaikan pada bulan lain diluar bulan ramadhan maka zakat fitrah dikeluarkan dan diwajibkan hanya pada ramadhan saja. Dan inilah salah satu ciri khas kedua dari bulan Ramadhan. Sebagaimana sebelumnya telah dibahas tentang bahagia saat menunaikan shalat tarawih pada bulan ramadhan, karena pada bulan inilah shalat tarawih digalakkan secara berjamaah setelah shalat Isya oleh umat Islam di seluruh dunia sementara pada bulan tidak dianjurkan kecuali dengan menunaikan qiyamullail. Adapun ibadah khusus lainnya yang hanya dilaksanakan pada bulan ini adalah zakat fitrah yaitu kewajiban mengeluarkan harta dalam bentuk tertentu (makanan pokok) dengan kadar tertentu dari setiap muslim sejak awal bulan ramadhan hingga terbit fajar menjelang ditunaikannya shalat idul fitri yang diberikan untuk orang-orang fakir dan miskin.

Kewajiban ini dikenakan kepada setiap individu umat Islam yang kedapatan pada tahun itu bulan ramadhan, termasuk seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya sebelum berakhir masa ramadhan juga terkena kewajiban mengeluarkan zakat tersebut yang mana orang tua bayi tersebut berkewajiban membayarkan zakat fitrahnya.

Dan Zakat Fitri, atau yang lazim disebut zakat fitrah, juga disebut sebagai penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Hal tersebut karena Allah SWT mensyariatkan atas umat untuk menunaikannya usai melakukan kewajiban puasa Ramadhan walaupun boleh ditunaikan sejak awal hadirnya bulan Ramadhan hingga menjelang dimulainya shalat idul fitri.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ

“Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Abu Daud, Ibnu Majah)

Makna Zakat Fitrah

Makna dari zakat ini adalah zakat jiwa, diambil dari kata fitrah, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas setiap jiwa. Dan dari berbagai ucapan para ulama tentang wajib fitrah maksudnya wajib zakat fitrah. Dan istilah zakat fitrah dikalangan para ulama dan masyarakat awam lebih populer disebut ِ zakat fithri atau shadaqah fithri. Dan kata Fithri di sini kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadhan, karena kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan.

Hukum Zakat Fitrah

Jumhur ulama menegaskan bahwa zakat fitrah hukumnya wajib. Dasarnya adalah hadits Nabi saw:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Dari Ibnu Umar ra ia mengatakan: “Rasulullah Saw menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (Id).” (Bukhari dan Muslim)

Dari hadits diatas tampak jelas bahwa Nabi mewajibkan dan memerintahkan, sehingga hukum zakat fitrah adalah wajib.

Siapa yang Wajib Berzakat Fitrah?

Nabi Saw telah menerangkan dalam hadits sebelumnya bahwa kewajiban tersebut dikenakan atas semua orang, besar ataupun kecil, laki-laki ataupun perempuan, dan orang merdeka maupun budak hamba sahaya. Akan tetapi untuk anak kecil diwakili oleh walinya dalam mengeluarkan zakat. Ibnu Hajar mengatakan: “Yang nampak dari hadits itu bahwa kewajiban zakat dikenakan atas anak kecil, namun perintah tersebut tertuju kepada walinya. Dengan demikian, kewajiban tersebut ditunaikan dari harta anak kecil tersebut. Jika tidak punya, maka menjadi kewajiban yang memberinya nafkah, ini merupakan pendapat jumhur ulama.” (Al-Fath, 3/369; lihat At-Tamhid, 14/326-328, 335-336) Demikian pula budak hamba sahaya diwakili oleh tuannya.

Imam Nafi’ mengatakan:

فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي عَنِ الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ حَتَّى إِنْ كَانَ لِيُعْطِي عَنْ بَنِيَّ

“Dahulu Ibnu ‘Umar menunaikan zakat anak kecil dan dewasa, sehingga dia dulu benar-benar menunaikan zakat anakku.” (Al-Bukhari)

Orang yang tidak mampu wajib berzakat fitrah

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa: “Bila kewajiban itu melekat ketika ia mampu melaksanakannya kemudian setelah itu ia tidak mampu, maka kewajiban tersebut tidak gugur darinya. Dan tidak menjadi kewajibannya (yakni gugur) jika ia tidak mampu semenjak kewajiban itu mengenainya.” (Bada`i’ul Fawa`id, 4/33)

Adapun kriteria tidak mampu dalam hal ini, maka Asy-Syaukani menjelaskan: “Barangsiapa yang tidak mendapatkan sisa dari makanan pokoknya untuk malam hari raya dan siangnya, maka tidak berkewajiban membayar fitrah. Apabila ia memiliki sisa dari makanan pokok hari itu, ia harus mengeluarkannya bila sisa itu mencapai ukurannya (zakat fitrah).” (Ad-Darari, 1/365, Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/553, lihat pula Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 9/369)

Bentuk Zakat Fitrah

Zakat fitrah pada dasarnya berupa bentuk makanan pokok pada setiap individu. Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang lalu. Dan lebih jelas lagi dengan riwayat berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُعْطِيْهَا فِي زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ

“Dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan, 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum, ataupun 1 sha’ kismis (anggur kering)’.” (Bukhari dan Muslim)

Kata Tho’am (makanan) maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya. Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain:

قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيْدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيْرُ وَالزَّبِيْبُ وَاْلأَقِطُ وَالتَّمْرُ

“Ia mengatakan: ‘Kami mengeluarkannya (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah Saw pada hari Idul Fitri’. Abu Sa’id mengatakan lagi: ‘Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma’.” (Bukhari)

Di sisi lain, zakat fitrah bertujuan untuk menyenangkan para fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya maka tujuan itu menjadi kurang tepat sasaran.

Namun permasalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama;

Pendapat pertama:

Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang. Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Daud. Alasannya, syariat telah menyebutkan apa yang mesti dikeluarkan, sehingga tidak boleh menyelisihinya. Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah, maka yang seperti ini bentuknya harus mengikuti perintah Allah SWT. Selain itu, jika dengan uang maka akan membuka peluang untuk menentukan sendiri harganya. Sehingga menjadi lebih selamat jika menyelaraskan dengan apa yang disebut dalam hadits.

Imam Nawawi berkata: “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang).” (Al-Majmu’, 5/401). Sementara itu Abu Daud berkata: “Aku mendengar Al-Imam Ahmad ditanya: ‘Bolehkah saya memberi uang dirham -yakni dalam zakat fitrah-?’ Beliau menjawab: ‘Saya khawatir tidak sah, menyelisihi Sunnah Rasulullah’.” Begitu pula Ibnu Qudamah berpendapat: “Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat.” (Al-Mughni, 4/295)

Pendapat kedua:

Boleh mengeluarkannya dalam bentuk uang yang senilai dengan apa yang wajib dia keluarkan dari zakatnya, dan tidak ada bedanya antara keduanya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Al-Mughni, 4/295, Al-Majmu’, 5/402, Bada`i’ush-Shana`i’, 2/205, Tamamul Minnah, hal. 379)

Atas dasar itu bila seorang muzakki (yang mengeluarkan zakat) memberi uang pada amil, maka amil diperbolehkan menerimanya jika posisinya sebagai wakil dari muzakki. Selanjutnya, amil tersebut membelikan beras –misalnya– untuk muzakki dan menyalurkannya kepada fuqara dalam bentuk beras, bukan uang.
Namun sebagian ulama membolehkan mengganti harta zakat dalam bentuk uang dalam kondisi tertentu, tidak secara mutlak. Yaitu ketika yang demikian itu lebih bermaslahat bagi orang-orang fakir dan lebih mempermudah bagi orang kaya.

Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah. Beliau berkata: “Boleh mengeluarkan uang dalam zakat bila ada kebutuhan dan maslahat. Contohnya, seseorang menjual hasil kebun atau tanamannya. Jika ia mengeluarkan zakat 1/10 (sepersepuluh) dari uang dirhamnya maka sah. Ia tidak perlu membeli korma atau gandum terlebih dulu. Al-Imam Ahmad telah menyebutkan kebolehannya.” (Dinukil dari Tamamul Minnah, hal. 380)

Beliau juga mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (25/82-83): “Yang kuat dalam masalah ini bahwa mengeluarkan uang tanpa kebutuhan dan tanpa maslahat yang kuat maka tidak boleh …. Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang secara mutlak, maka bisa jadi si pemilik akan mencari jenis-jenis yang jelek. Bisa jadi pula dalam penentuan harga terjadi sesuatu yang merugikan… Adapun mengeluarkan uang karena kebutuhan dan maslahat atau untuk keadilan maka tidak mengapa….”

Yang perlu diperhatikan, ketika memilih pendapat ini, harus sangat diperhatikan sisi maslahat yang disebutkan tadi dan tidak boleh sembarangan dalam menentukan, sehingga berakibat menggampangkan masalah ini.

Ukuran yang Dikeluarkan

Dari hadits-hadits yang lalu jelas sekali bahwa Nabi Saw menentukan ukuran zakat fitrah adalah 1 sha’. Tapi, berapa 1 sha’ itu? Satu sha’ sama dengan 4 mud. Sedangkan 1 mud sama dengan 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang.

Berapa bila diukur dengan kilogram (kg)? Tentu yang demikian ini tidak bisa tepat dan hanya bisa diukur dengan perkiraan. Oleh karenanya para ulama sekarangpun berbeda pendapat ketika mengukurnya dengan kilogram.
Dewan Fatwa Saudi Arabia atau Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai al-marhum Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dan para anggotanya memperkirakan 3 kg. (Fatawa Al-Lajnah, 9/371) Adapun Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2,040 kg. (Fatawa Arkanil Islam, hal. 429)

Waktu Mengeluarkan zakat fitrah

Menurut sebagian ulama bahwa jatuhnya kewajiban fitrah itu dengan selesainya bulan Ramadhan. Namun Nabi Saw menerangkan bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu sebelum shalat sebagaimana dalam hadits yang lalu.

وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar menuju shalat.”

Dengan demikian, zakat tersebut harus tersalurkan kepada yang berhak sebelum shalat. Sehingga maksud dari zakat fitrah tersebut terwujud, yaitu untuk mencukupi mereka di hari itu.

Namun demikian, syariat memberikan kelonggaran kepada kita dalam penunaian zakat, di mana pelaksanaannya kepada amil zakat dapat dimajukan 2 atau 3 hari sebelum Id berdasarkan riwayat berikut ini:

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُعْطِيْهَا الَّذِيْنَ يَقْبَلُوْنَهَا وَكَانُوا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yang menerimanya [1]. Dan dahulu mereka menunaikannya 1 atau 2 hari sebelum hari Id.” (Bukhari)

Dalam riwayat Malik dari Nafi’:

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ

“Bahwasanya Abdullah bin Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada petugas yang zakat dikumpulkan kepadanya, 2 atau 3 hari sebelum Idul Fitri.” (Al-Muwaththa’)

Sehingga tidak boleh mendahulukan lebih cepat daripada itu, walaupun ada juga yang berpendapat itu boleh. Pendapat pertama itulah yang benar, karena demikianlah praktek para shahabat.

Mengeluarkan Zakat Fitrah Setelah Shalat Id

Hal ini telah dijelaskan oleh hadits Rasulullah Saw berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Ied) maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu hanya sekedar sedekah dari sedekah-sedekah yang ada.” (Abu Daud danIbnu Majah)

Ibnul Qayyim berkata: “Konsekwensi dari dua [2] hadits tersebut adalah tidak boleh menunda penunaian zakat sampai setelah Shalat Id; dan bahwa kewajiban zakat itu gugur dengan selesainya shalat. Inilah pendapat yang benar karena tiada yang menentang dua hadits ini dan tidak ada pula yang menghapus serta tidak ada ijma’ yang menghalangi untuk berpendapat dengan kandungan 2 hadits itu. Dan dahulu guru kami (Ibnu Taimiyyah) menguatkan pendapat ini serta membelanya.” (Zadul Ma’ad, 2/21) Atas dasar itu, maka jangan sampai zakat fitrah diserahkan ke tangan fakir setelah Shalat Id, kecuali bila si fakir mewakilkan kepada yang lain untuk menerimanya.

Sasaran Zakat Fitrah

Yang kami maksud di sini adalah mashraf atau sasaran penyaluran zakat.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan sasaran penyalurannya adalah orang fakir miskin secara khusus.

Sebagian lagi mengatakan, sasaran penyalurannya adalah sebagaimana zakat yang lain, yaitu 8 golongan sebagaimana tertera dalam surat At-Taubah 60. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Qudamah (Al-Mughni, 4/314).

Dari dua pendapat yang ada, nampaknya yang kuat adalah pendapat yang pertama. Dengan dasar hadits Nabi yang lalu:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ

Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.”

Ibnul Qayyim mengatakan: “Diantara petunjuk beliau Saw, zakat ini dikhususkan bagi orang-orang miskin dan tidak membagikannya kepada 8 golongan secomot-secomot. Beliau tidak pula memerintahkan untuk itu serta tidak seorangpun dari kalangan shahabat yang melakukannya. Demikian pula orang-orang yang setelah mereka.” (Zadul Ma’ad, 2/21, lihat pula Majmu’ Fatawa, 25/75, Tamamul Minnah, hal. 387, As-Sailul Jarrar, 2/86, Fatawa Ramadhan, 2/936)

Atas dasar itu, tidak diperkenankan menyalurkan zakat fitrah untuk pembangunan masjid, sekolah, atau sejenisnya. Demikian difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah (9/369).

Definisi Fakir dan Miskin

Fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa atau punya sedikit kecukupan tapi kurang dari setengahnya. Sedangkan miskin adalah yang mendapatkan setengah kecukupan atau lebih tapi tidak memadai.

Para ulama banyak membicarakan hal ini. Terlebih, kata fakir ini sering bersanding dengan kata miskin, yang berarti masing-masing punya pengertian tersendiri. Pembahasan masalah ini cukup panjang dan membutuhkan pembahasan khusus. Namun di sini kami akan sebutkan secara ringkas pendapat yang nampaknya lebih kuat:
Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya (8/168) menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam hal perbedaan antara fakir dan miskin sampai 9 pendapat.

Diantaranya, bahwa fakir lebih membutuhkan daripada miskin. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan jumhur sebagaimana dalam Fathul Bari. (Dinukil dari Imdadul Qari, 1/236-237)

Diantara alasannya adalah karena Allah SWT lebih dahulu menyebut fakir daripada miskin dalam surat At-Taubah: 60.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat…”

Tentu Allah SWT menyebutkan dari yang terpenting. Juga dalam surat Al-Kahfi: 79, Allah SWT berfirman:

أَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera…”

Allah SWT menyebut mereka miskin padahal mereka memiliki kapal. Jadi baik fakir maupun miskin sama-sama tidak punya kecukupan, walaupun fakir lebih kekurangan dari miskin.

Standar zakat yang Diberikan kepada Mereka

Bahwa zakat fitrah yang diberi seukuran yang membuat hilangnya kefakiran dan kemiskinan mereka. Maka diupayakan jangan sampai setiap orang miskin diberi kurang dari ukuran zakat fitrah itu sendiri.

Tempat Ditunaikannya Zakat Fitrah

Bahwa Zakat fitrah itu dikeluarkan di tempat seseorang berada. Namun jika wakil atau walinya mengeluarkannya di daerah tempat yang bersangkutan tidak ada di sana, maka diperbolehkan.

Hikmah kewajiban zakat fitrah

Dalam yang disebutkan tentang kewajiban zakat fitrah nabi saw menyebutkan tujuan zakat fitrah dan itu juga menjadi hikmah dari kewajiban berzakat yaitu dua perkata:

1. Bagi yang menunaikan zakat fitrah berupa kesucian jiwa dan penyempurna puasa dari tindakan dan perilaku yang tidak berguna pada saat menjalankan ibadah puasa.

2. Bagi yang menerima zakat fitrah berupa kesenangan dan pemenuhan kebutuhan pada saat umat Islam bergembira.

Dari dua hikmah diatas dapat kita simpulkan bahwa zakat dapat memberikan kebaikan kepada dua pihak; muzakki dan mustahik. Tumbuhnya kepedulian dari kalangan umat Islam antara muzakki dan mustahik. Islam sangat konsen dalam mengentaskan kemiskinan, apalagi jika kita pahami secara mendalam kewajiban zakat secara umum. Jika hal ini dapat diwujudkan secara baik dan optimal maka tidak akan ada lagi orang-orang miskin, tidak ada lagi orang-orang yang keluar dari rumah untuk meminta-minta, berdiri di trotoar jalan, berkeliling kampung, masuk gang dan lorong untuk meminta zakat dari orang-orang kaya.

Berbahagialah orang yang dianugrahkan banyak harta oleh Allah SWT, dan berbahagi pula bagi mereka yang mampu membayarkan zakatnya; zakat mal, zakat fitrah dan sedekah.