Bagi sebagian orang pergantian musim kemarau ke musim penghujan mempunyai pengaruh tersendiri terhadap daya tahan tubuh, sehingga mudah sekali terjangkit penyakit, seringnya sih flu. Turunan dari flu bisa bermacam-macam, bisa demam, batuk2, pilek, dan sering bersin2 dan lain sebagaianya.

Flu ini yang sedang saya alami sendiri saat ini. Kalo fotonyasih bukan foto saya sendiri, itu ambil dari google, karena muka saya tidak terlalu fotogenic untuk dipajang dimedia sosial.tapi Sudahlah, lanjut baca aja, jangan salah fokus.

Dari macam-macam penyakit turunan dari flu itu, yang saya pikir paling unik adalah bersin-bersin, kenapa? Karena ya unik aja, seperti ini ni.. Pertama, kalian pasti akan merasa lega, ato katakanlah plonggg ketika berhasil mengeluarkan bersin, ya kan? Tiada tara deh pokoknya. Sebaliknya, jika sedang merasa ingin bersin tapi kog bersinya gak keluar, penyesalah yang muncu, dan pastinya ada sedikit upaya dari kalian untuk mengeluarkan bersin itu tapi tidak keluar juga, yahh klo sudah seperti ini tunggu saja sampe tiba2 bersin sendiri

Kedua, fenomena unik yg kedua dari bersin adalah ini, biar bahaimanapun cara kalian untuk tetap membuka mata tepat saat bersin, maka ketahuilah, bahwa usaha itu sia-sia belaka, coba saja buktikan sendiri. Nahh maka dari itu sangat berbahaya bersin muncul ketika sedang mengendarai motor ato mobil,  meskipun hanya sekejap mata, itu tetap berbahaya, saran saya, ketika hendak bersin, tahan sebentar, minggir dulu ke tepi jalan, baru keluarkan bersinya, ya kalo jadi keluar bersinya. Haha, ato ini ni, kalian sedang main PES lawan temen kalian, waktu hendak bersin, langsung pencet itu tombol START, biar tidak terjadi hal yg tidak diinginkan dengan permainan mu,

Yg paling penting adalah, setelah bersin kita disarankan mengucap Syukur pada yg kuasa, karena lewat bersin adalah salah satu cara tuhan menggugurkan dosa kita.

Okey lahh, cukup, gak bisa lebih panjang lagi nulisnya, mau lanjut ngelap pilek yg meler terus.

#selamatpagi  #jagakesehatan #wabahflumenyerang

Pada saat nya kita akan dihadapkan dengan yang namanya perubahan zaman, yang namanya tradisi apalagi tradisi yang baik harus tetep dilestarikan.. Hari sabtu kemaren (5/12) sempet mampir ke masjid SMA 2 Semarang, Masjid Al Hidayah namya, sebuah masjid dimana kenangan kami banyak tertinggal di sana, :-D

Bukan tidak sengaja mampir sih, tapi memang sudah diniatkan dateng, karena disitu sedang ada agenda ro'an (bakti masjid red.) ato kerja bakti membersihkan masjid oleh adek2 ROHIS SMA 2 Semarang.

Melihat aktifitas mereka Seakan waktu perputar kembali kemasa dimana saya dan temen2 saya melakukan kegiatan yg sama, yaitu pada tahun 2008.

Masjid yg kami banggakan dan selalu kami jaga kebersihanya belumlah sebagus dan semegah sekarang ini. Sudah beratap tapi bagian depan, kanan, dan kiri masih terbuka sehingga bisa merasakan angin segar secara langsung, hehe, lalu lantainya belum berkeramik, cukup menggunakan karpet plastik ato kebanyakan orang menyebutnya dengan perlak. dan tau kah kawan apa yg terjadi dengan perlak2 lantai masjid itu ketika hujan turun di sertai hembusan angin kencang? Pada berterbangan kemana2, terlipat sana terlipat sini dan terlihat tidak karuan, haha, maka dari itu kalo malam hari kog hujan, besoknya waktu kami tiba disekolah, bukan kelas dulu yg kami tuju, melainkan masjid kami itu. Beruntungnya kalo kondisi nya masih rapi, tidak perlulah kami merapikan, tapi sering nya porak-poranda, haha, mau tidak mau ya beberes dulu, baru masuk kelas klo bel masuk sudah bunyi.

Yahhh begitulah, pokoknya masih menggunakan fasilitas serba seadanya, hehe. Yg kami inginkan hanya supaya warga sekolah (guru, siswa, kepsek, satpam dsb) nyaman beribadah di masjid tersebut, #Tsahhh :-D

Bukan begitu? (Mensen anak2 cadas) >_<

Liburan akhir pekan, saya berniat mengganti jok motor yg sudah usang dan penuh dengan sobekan, maklum motor lama,

Tiba dilapak tukang jok, banyak sekali model dan motif jok yang ditawarkan, jatuhlah pilihan saya pada salah satu motif jok, dan mulailah si bapak mengerjakan pekerjaanya mengganti jok motor,

Selama proses pengerjaan, jenuhlah pastinya kalo tidak terjadi perbincangan diantara kita berdua, makanya si bapak memulai perbincangan, dan dari perbincangan inilah saya mendapat banyak pelajaran dari bapak nya, berikut cuplikan kalimat si bapak,

Si Bapak: "Mas, yg terpenting dari pekerjaan ini bukan hanya kualitas barangnya, namun juga kerapianya, saya mengerjakan jok motor orang itu seakan-akan saya yg menaiki motor itu, saya harus merasakan dulu, enak ato tidak jok itu dinaiki"

saya : Manggut-manggut (batul banget bapak, guehh suka gaya si Bapak)

Selesai membungkud jok dengan bungkus baru, jok dipasang kembali ke motor,

si Bapak : "mas, ini jok nya gak bisa ngunci ya?"
Saya : "iya pak, gak papa, biarin gitu aja"
Si Bapak : "sekedap mas, (sebentar mas), Krusek...krusek...krusek
Si bapak mangambil obeng..
Dan apa yg di lakukan, bapak membetulkan pengunci jok motor saya,

Saya : "kersane mawon pak (biarkan aja pak), nanti tak betulkan sendiri"
Si Bapak : "sedelok wae kog mas"

Ya sudah saya pasrah,
Sekalihnya utak-atik, eh jok nya belum bisa terkunci
Terlihat si bapak mencari cara lain dan di coba,
Belum bisa terkunci juga,

Berkata saya dalam hati : "wah, sepertinya memang gak bisa dibetulkan"
mulai ragu,
Saya : "sampun mawon pak,"
Jadi merasa tidak enak,

Si bapak terlihat tidak menyerah,
Diambilnya sepotong kawat, lalu otak-atik pengunci jok nya,
Dan akhirnya jok nya berhasil terkunci,

Saya : "wahhh mantep pak," ^_^
Si Bapak : "tersenyum"
Saya: "njih pak, dadose pinten sedoyonipun? (Jadi, berapa semuanya?)
Si Bapak : "njih regine wau niku mas (harganya pas di awal tadi mas)
(Di awal si bapak nya sudah menyebutkan harga jok plus pasang,) Wah, ternyata tidak ada tambahan biaya jasa betulin pengunci jok, padahal harga nya itu seharusnya hanya untuk bungkus jok dan pasangnya,

Si bapak memang betul betul membuktikan apa yg dikatakan kepada saya diawal, "saya betulin jok seakan-akan saya sendiri yg menaiki nya mas, jadi ya semaksimal mungkin saya mengerjakanya,

Satu lagi yg saya pelajari dari si bapak, dia selalu mengajak berbincang pelangganya, apapun itu topiknya yg penting menarik untuk dibicarakan, sehingga pelangganya gak jenuh.
Salut buat si bapak, saya rekomendasikan ke temen deh kalo ada yg mau ganti buungkus jok motor,
^_^

Cerita sederhana yg menginspirasi berikut ini:
Seusai sholat subuh aku dikejutkan oleh Bunda 
“ Ari, Nenek kamu masuk rumah sakit. Bunda harus datang melihatnya.“

Kulihat wajah bunda nampak sedih.
Tentu aku harus mendampingi bunda karena tempat tinggal nenek tidak di Jakarta tapi Sumatera.
Sementara aku hampir tidak mungkin meninggalkan kesibukanku di Jakata, Apalagi mitra bisnisku dari luar negeri sedang ada di jakarta untuk menjajaki kerjasama pembelian produksi pabrikku.

Kulihat Bunda sedang sibuk mengemas pakaiannya di kamar.
“ Bunda, apa engga bisa berangkatnya lusa aja” 
kataku dengan lembut.

“ Bunda engga mau ganggu kamu, bunda bisa pergi sendiri kok,  Antar saja Bunda ke Bandara ya “ 
kata bunda sambil memasukan pakaiannya kedalam koper,

“Baru minggu lalu bunda ke Dokter dan sekarang masih harus istirahat.“ 
Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi. “ Lusa aja, ya. Aku temanin. “

“ Tidak ! “ 
Mata Bunda melotot. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela nafas panjang,
Sepeti biasanya aku harus mengalah untuk mengikuti kata Bunda. Istriku juga punya sifat sama denganku untuk mengikuti kehendak bunda.“

"Baiklah, Kita pergi sama sama." Seperti biasanya pula Bunda tersenyum cerah , dia memelukku.

Didalam pesawat aku menuju kota kelahiran ayahku.,
lamunanku terbang kemasa kanak kanaku. Dalam usia 5 tahun , aku sudah yatim. Karena ayah meninggal akibat sakit..
Menurut cerita Bunda , ketika Ayah meninggal status ayah masih mahasiswa di Yogya. Bunda bukanlah dari keluarga kaya. 
Bunda juga seorang Yatim, Beda dengan Ayah yang terlahir dari keluarga Pajabat tinggi di sumatera.

Sehingga walau Ayah berstatus mahasiswa namun kiriman uang dari orang tuanya masih cukup untuk menanggung hidupnya berkeluarga.

Ayah sengaja merahasiakan perkawinan itu kepada keluarga besarnya. Namun dua tahun setelah ayah meninggal , bunda datang kekeluarga ayah sambil membawaku. 
Aku masih ingat ketika itu usiaku 7 tahun.


Aku tidak begitu ingat percis bagaimana suasana ketika bunda memperkenalkan dirinya sebagai menantu dan aku sebagai cucu kepada kakek dan nenekku.
Yang aku tahu setiap tahun bunda selalu membawaku kerumah Kakek dan nenek.

Setiap tahun , setiap lebaran, bunda mengajaku pergi kerumah kakek dan nenek. Dengan berlelah lelah naik bus melewati pulau jawa dan sumatera untuk sampai.
Tak pernah aku antusias datang ke rumah kekek dan nenek. Sebagai anak kecil aku tahu bahwa kakek nenek tidak pernah hangat dengan kehadiranku dan Bunda.

Beda sekali dengan perlakuannya dengan saudara sepupuku yang lain, seperti Adi, Rini, Bobi, Anto, Dedi. Setiap lebaran, kulihat para sepupuku datang dari jakarta, Bandung , Surabaya dengan pakaian bagus.

Beda sekali denganku. Bila semua istri om sibuk berdandan dikamar atau bermalasan di taman belakang rumah kakek yang luas itu, Bunda malah sibuk didapur memasak , seperti pembantu.

Ayahku adalah anak tertua diantara empat bersaudara. Semua saudara ayah laki laki. Tidak ada perempuan.
Istri om semua memang cantik cantik. Menurut yang kutahu dari Nenek, yang selalu diulang ulang dihadapan bunda, bahwa semua istri om dari kalangan keluarga terhormat. Seakan merendahkan keberadaan Bunda. Tapi kulihat bunda tak pernah tersinggung.

Selama membesarkan ku, bunda tak pernah mendapat bantuan satu senpun dari keluarga ayah. Juga bunda tidak pernah memohon bantuan dari mereka.

Bunda bekerja keras diperusahaan Swasta sebagai tenaga administrasi. Bundapun tak pernah terpikir untuk menikah kembali. Ketika aku sudah remaja, aku sudah bisa beralasan bila bunda mengajakku lebaran di rumah Kakek.

“Aku males kerumah kakek dan nenek. Mereka engga sayang sama ku. Kenapa kita harus kerumah mereka? . “
Demikian alasanku. Tapi bunda dengan segala sifatnya yang keras memaksaku untuk ikut. Akupun tak berdaya.
Ketika aku tamat SMU, aku tidak kuliah. Aku memilih bekerja di bengkel.

“Saya tak ada uang untuk mengirim Ari ke universtas, Yah. “Demikian kata ibu kepada kekek ketika menanyakan mengapa aku tidak kuliah.
Kakek dan nenek nampak tersenyum sinis ketika mengetahui keadaanku.

Tahun tahun berikutnya ketika lebaran. Kakek dengan kebanggaannya bercerita tetang sepupuku yang berangkat keluar negeri untuk kuliah. Ada juga yang masuk perguruan tinggi swasta bergengsi di Jakarta. Aku maklum karena om ku semua mempunyai posisi sebagai pejabat, dan ada juga yang jadi pengusaha.

Aku dan bunda hanya diam mendengar cerita itu. Tapi, tak pernah mengurangi niat bunda untuk datang kerumah kakek dan nenek. 

Dan aku semakin bosan dengan sikap keluarga ayahku.

Yang pasti Biiznillah, izin Allah ditambah kerja kerasku, aku bisa menanggung bunda dan bunda tak perlu lagi berkerja keras.
Berjalannya waktu, yang tadinya aku sebagai pekerja bengkel, akupun sudah bisa mandiri dengan membuka usaha bengkel sendiri.

Lambat laun , aku mendapat mitra untuk membuat komponen bodi kendaraan sebagai pemasok pabrikan otomotif. Usaha ini kegeluti dengan kerja keras siang malam dan akhirnya berkembang. Ini semua tidak bisa dilepaskan peran Bunda yang tak henti mendoakanku.

Akupun dapat hidup mapan. Namun, kewajiban setiap lebaran datang berkunjung kerumah kakek nenek tetap saja dilakukan oleh bunda dan aku harus ikut.

Tapi belakangan keluarga yang berkumpul dirumah kakek dan nenek tidak lagi utuh. Yang lain hanya menelphone mengucapkan selamat lebaran kepada kakek dan nenek. Sepupukupun tak semua datang. Mereka bersikap sama dengan orang tuanya, mengucapkan selamat lebaran via SMS atau telp. Tapi kakek dan nenek tetap bangga dengan mereka.

Aku tak pernah cerita tentang keadaanku karena kakek dan nenek tak pernah bertanya tentangku. Walaupun mereka tahu aku dan bunda tidak lagi datang dengan bus tapi menggunakan pesawat terbang.

Tak terasa roda pesawat sudah menyentuh landasan. Kulihat bunda tersentak dari tidur lelapnya. Dia melirik kearahku dan entah kenapa dia menciumku keningku.” Ada apa bunda ?“ tanyaku dengan tesenyum
“ Bunda ingat akan ayahmu. “ Bunda nampak berlinang air mata. Aku hanya diam “ Ayahmu pria yang sangat baik. Sangat baik. Dia pria yang sholeh. Ayahmu berencana bila dia selesai kuliah dan dapat pekerjaan maka dia akan membawa bunda dan kamu ke keluarga besarnya.

Bunda tahu kok, Ayahmu dalam posisi lemah ketika melamar Bunda. Disamping itu dia sadar karena pilihannya kepada bunda membuat dia berbeda dengan ayahnya.
Ayahmu mencintai bunda karna dia lebih mencintai Allah dari apapun.” Sambung Bunda.
“ Maksud bunda apa ?
“ Ayahmu memilih bunda karena agama. Dia tidak melihat bunda karena kecantikan, karena keturunan orang kaya, karena apa apa. Dihadapan ayahmu , bunda adalah muslimah yang baik , yang miskin. Dan itu pasti akan ditentang habis oleh keluarganya.”
Air mata bunda berlinang dan akhirnya airmata itu jatuh membasahi pipinya. “
“ Kamu adalah putra ayahmu. Anak yang berbakti, soleh dan pekerja keras. Benarlah kalau niat baik karena Allah maka yang akan datang juga kebaikan. “
Aku terdiam. Ada yang mengganjal dalam pikiranku. Ini momen yang tepat untuk bertanya
“ Kenapa bunda selalu menaruh hormat kepada kakek dan nenek. 
Padahal mereka tidak peduli dengan kita. “

Bunda menatapku dengan tersenyum
“Ketika ayahmu pulang ke Sumatera dalam keadaan sakit, dia berpesan kepada bunda , bila dia meninggal agar bunda menjalin silahturahmi dengan keluarganya dan mendidik mu untuk dekat kepada kedua orang tuanya.”
Bunda terdiam sebentar sambil mengusap airmatanya. “ kamu tahu, Setelah ayahmu meninggal, butuh dua tahun bunda untuk mengambil keputusan untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu.

Walau karena itu tidak ada rasa hormat kepada bunda , dan bunda juga menyaksikan betapa kamu tidak diperlakukan sama seperti cucu yang lain, tapi bunda ingat kata kata ayahmu
“cintailah sesuatu karena karena Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia,
Ya kan, anakku.”

“ Ya , bunda. “ Terlontar begitu saja dari mulutku.
Entah kenapa kedatangan ku bersama bunda kali ini disambut dengan air mata berlinang oleh kakek.
Dia peluk aku ketika sampai di kamar nenek dirawat. 
Yang datang menjenguk hanya aku dan ibu. Sementara om dan sepupuku tidak ada yang datang. Kulihat nenek dalam keadaan tertidur.


Dari kakek kutahu bahwa nenek terkena stroke tapi keadaanya cepat tertolong. Mungkin setelah itu nenek akan lumpuh. Kakek mengajaku keluar dari ruangan. Kami bicara ditaman Rumah sakit.

“ Dua tahun lalu Om mu yang pejabat di Jakarta, terkena kasus korupsi. Dia dalam pemeriksaan oleh aparat yang berwajib.
Sebelumnya om mu yang di surabaya perusahaannya disita oleh bank karena bankrut.

Om kamu yang di Bandung bercerai dengan istrinya karena soal perselingkuhan dan akhirnya terkena PHK sebagai PNS.
Semua anak anak mereka tumbuh menjadi anak yang liar. Kuliah tidak selesai, dan terjebak dalam pergaulan bebas.
“Aku terkejut, Karena baru kali ini aku tahu. Mungkin karena hubunganku dengan keluarga ayahku tidak begitu dekat maka tak banyak kutahu soal mereka.
“ Kakek tahu bahwa nenekmu punya penyakit darah tinggi dan jantung.

Makanya kakek berusaha menyimpan rapat rahasia tentang Om kamu yang tersangkut kasus karupsi.
Tapi kemarin , ada yang memberi tahu bahwa om kamu sudah di vonis penjara enam tahun atas tindakan korupsinya. Seketika itupula nenekmu jatuh pingsan...”
Aku hanya diam untuk menjadi pendengar yang baik.
“ Ari, kami tahu bahwa selama ini perlakuan kami kepada kamu dan ibu mu kurang baik.

Bahkan kami biarkan ibu mu menderita membesarkan kamu, membesarkan anak dari putra sulung kami, cucu kami..
Kami menyesal karena sikap kami selama ini. Belakangan ini , nenekmu selalu menyebut nama kamu...setiap dia menyebut namamu , seketika itu juga dia menangis.
Kini dimasa tua kami, kami resah karena tak tahu siapa yang akan mengurus kami.

Nenekmu mungkin setelah ini akan lumpuh. Kakek sudah uzur dan lemah...”
Ku genggam tangan kakek.
“ Aku yang akan merawat kakek dan nenek. Izinkan aku untuk membawa kakek dan nenek ke jakarta , tinggal bersamaku. Beri kesempatanku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, ya kek. “
Seketika itu juga kakek memeluku erat.
Terasa pundakku dingin., Aku tahu kakek menangis. " Harta yang ada juallah kek. Untuk bantu om dan adik adikku.
Dalam situasi ini tentu mereka sangat membutuhkannya. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk panti asuhan agar kakek punya bekal akhirat, ya kan kek." kataku.

Kakek semakin erat pelukannya. " Maha suci Allah, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami .."
Bertahun tahun aku didiik oleh bunda untuk memahami makna cinta.

Bahwa cinta adalah tindakan memberi karena Allah, bukan mengharap balasan dr manusia.
Akupun harus memahami hakikat cinta dalam kehidupan ini, termasuk menggantikan posisi ayahku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, orangtua ayahku.

Bunda nampak bahagia sekali ketika melihatku mendorong korsi roda nenek menuju tangga pesawat dengan disamping kakek yang berjalan sambil memegang lenganku. Kami semua ke Jakarta.

Ya Allah, semoga kami meninggal dalam sebagai insan yang Engkau cintai.
Sumber : grup WA

Pantai Pandansimo berada di Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, kurang lebih 20 kilometer arah barat daya Kota Bantul. Terletak bersebelahan dengan Muara Sungai Progo, dan merupakan pantai paling barat dari deretan Pantai Selatan yang masuk ke wilayah Kabupaten Bantul.


Deburan ombak yang besar dan liar, hiruk-pikuk nelayan melawan melawan ganasnya ombak merupakan gaya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selain panorama pantai yang indah, menurut penduduk sekitar di pantai Pandansimo juga terdapat objek wisata ziarah seperti Pandanpayung dan Pandansari. Hal menarik yang dapat dilakukan di sini adalah berbelanja ikan laut langsung dari nelayan lokal.


Nama Pandansimo sendiri berasal dari kata "pandan" (pohon pandan) dan "simo" (macan). Di sini juga terdapat berbagai aktivitas kebudayaan seperti upacara tradisi Merti Dusun, labuhan sedekah laut, dan pentas seni budaya. Cukup mambayar tiket tanda masuk yang rata-rata di bawah Rp 5.000 per kepala, Anda dapat merasakan denyut nadi kehidupan nelayan yang penuh kesederhanaan.


Di wilayah pantai ini juga sedang dilakukan penelitian tetntang pengembangan Pembangkit Listrik baru yaitu degan memanfaatkan angin, bisa juga disebut dengan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu). Jadi kita bisa melihat deretan kincir angin raksasa yang berputar kencang diterpa angin pantai. Demikianlah sebagian kecil kenikmatan di tengah-tengah denyut nadi kehidupan nelayan di Pantai Pandansimo.



Salam dari Panti Baru Pandansimo